Aku berjalan ke arah pintu masuk Stasiun Tugu. Sekitar 400 meter. Dan diantara 400 meterku berjalan tersebut aku melewati beberapa kesibukan.
Aku melewati beberapa warung kecil yang sudah mulai buka. Beberapa pelanggannya duduk untuk sekedar sarapan atau minum kopi. Kalau di sebut warung, bukan juga. Seringnya mereka menggunakan gerobak dan tikar untuk duduk pelangannya. Sedikit menggerutu dalam hati. Trotoar pejalan kaki sedikit banyak dipakai oleh mereka. Padahal kota ini adalah kota yang besar. Hatiku memberikan pengertian,
Aku melewati beberapa warung kecil yang sudah mulai buka. Beberapa pelanggannya duduk untuk sekedar sarapan atau minum kopi. Kalau di sebut warung, bukan juga. Seringnya mereka menggunakan gerobak dan tikar untuk duduk pelangannya. Sedikit menggerutu dalam hati. Trotoar pejalan kaki sedikit banyak dipakai oleh mereka. Padahal kota ini adalah kota yang besar. Hatiku memberikan pengertian,
Perlahan-lahan kota ini membenahinya.
Pejalan kaki sangat dihargai. Satu per satu trotoar dikembalikan kepada fungsinya, yaitu untuk pejalan kaki. Sial saja mungkin trotoar yang baru saja ia lewati salah satu yang belum diperbaiki.
Ketika memasuki pintu stasiun, yang entah bisa disebut pintu atau tidak. Lebih tepatnya, aku melewati pintu kecilnya, bukan pintu utama. Orang-orang dengan penampilan sisa-sisa bepergian mulai terlihat. Koper di seret, tas di tenteng, wajah-wajah menunggu jemputan, raut-raut pagi ini walaupun sisa dari perjalanan terlihatnya tak melelahkan. Atau mungkin karena aku tak merasakannya?
Kesal memasuki barisan tukang becak, yang entah kapan mendapat penumpang. Aku bertanya-tanya dalam hati, memangnya mereka bisa untung berapa dalam sehari? Masih bisa bertahan dengan pekerjaan tersebut. Dia heran. Tapi semua tetap berlalu begitu saja. Hatiku memberikan pengertian lagi,
Bayangkan berapa kali dalam sehari orang-orang datang dan pergi. Rejeki sudah ada yang menjamin. Manusia itu sedang berusaha menjemputnya.Diriku mengiyakan pengertian dari batinku sendiri. Tak hanya becak, bahkan taksipun berbaris rapi disana. Menunggu penumpang yang entah kapan akan menggunakan jasa mereka. Menunggu? Kurasa tidak juga.
Kereta baru saja tiba, menurunkan puluhan penumpangnya. Para sopir taksi itu tak hanya menunggu. Mereka mencarinya. Mencari calon penumpangnya diantara barisan mantan penumpang kereta api itu. Tentu saja, memangnya menunggu saja cukup? Habislah takkan dapat penumpang.
Setelah beberapa kesibukan, masuklah aku ke pintu tiket. Aku menyerahkan handphone dan KTP ku. Di periksa petugas lalu kemudian masuk ke area tunggu. Tempat duduk di area tunggu itu sepi. Tak seperti biasanya. Lalu aku teringat, sekarang 'kan hari biasa. Kalau weekend, sudah lain ceritanya. Aku duduk, keretaku masih terjadwal 20 menit lagi.
Memandang sekitar, yang sebenarnya sudah empat tahun ini aku lalui. Sudah banyak yang berubah, ya sudah banyak sekali. Mulai dari atap area tunggu yang sudah pasti menjamin calon penumpang tak kepanasan, penjual Roti Maryam yang harumnya menggoda hidung dan membangkitkan selera lapar, lalu apa lagi ya? Ternyata tidak banyak ya. Dan sebuah tulisan yang dari dulu tak pernah berubah, Yogyakarta.
Sepintas aku tertegun sendiri. Menyadari bahwa Yogyakarta sudah seperti kotaku sendiri. Kota pelajar. Tapi rasanya aku ingin pergi lebih jauh dari ini. Bukan hanya sekitar Yogya-Purworejo setiap pekannya. Aku ingin ke arah lain. Melihat kesempurnaan cinta di tempat lain.
Aku tersenyum kecut. Apa aku bisa pergi lebih jauh dari ini? Aku memang tidak bisa, tapi kalau memintanya pada Pemilik Semesta, aku bisa. Bukan aku yang akan mewujudkannya. Mana bisa aku yang hanyalah butiran dari butiran debu ini menjelajahi kebesaran alam ini? Oh mimpiku sederhana, aku masih menyimpannya. Suatu saat disaat yang tepat, aku akan membukakannya untukmu.
Kesimpulan tulisan ini sederhana, pagi ini trotoar jalan belum terlalu sibuk, begitu juga para tukang becak dan taksi di stasiun. Jam masih terlalu pagi, mungkin satu dua kesibukannya baru dimulai.
Kesimpulan tulisan ini sederhana, pagi ini trotoar jalan belum terlalu sibuk, begitu juga para tukang becak dan taksi di stasiun. Jam masih terlalu pagi, mungkin satu dua kesibukannya baru dimulai.
Namun, pikiran manusia selalu sibuk, ya? Tak bisa diam. Kemana matanya mengarah, kesitulah pikirannya mulai berjalan. Kalau menurutmu, demikian?
Komentar
Posting Komentar